<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Ferry</title>
	<atom:link href="http://ferryben.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ferryben.wordpress.com</link>
	<description>Ikatlah Ilmu Dengan Menulis dan Mengamalkannya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Apr 2009 07:00:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ferryben.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Ferry</title>
		<link>http://ferryben.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ferryben.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Ferry" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ferryben.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tujuh Kelompok Yang Dinaungi Allah</title>
		<link>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/02/tujuh-kelompok-yang-dinaungi-allah/</link>
		<comments>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/02/tujuh-kelompok-yang-dinaungi-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 06:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Center]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ferryben.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=89&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right"><span style="font-family:DejaVu Sans;"><span style="font-size:medium;"><span lang="zxx"><span>قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></span></span><span style="font-size:medium;"><span lang="zxx"><span> </span></span></span></span><span style="font-size:medium;"><span lang="id-ID"><span>:<br />
</span></span></span><span style="font-family:DejaVu Sans;"><span style="font-size:medium;"><span lang="zxx"><span>سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ</span></span></span></span><span style="font-size:medium;"><span lang="id-ID"><span>. (</span></span></span><span style="font-family:DejaVu Sans;"><span style="font-size:medium;"><span lang="zxx"><span>صحيح البخاري </span></span></span></span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Sabda Rasulullah saw : “Tujuh kelompok yang dinaungi Allah pada Naungan Nya dihari tiada tempat berteduh kecuali yang dinaungi Nya, Imam yang adil, dan Pemuda yang tumbuh dg banyak ibadah pada Allah, dan orang yang hatinya terikat ke masjid masjid, dan dua teman yang saling akrab karena Allah, berteman dan berpisah karena Allah, dan pria yang diajak berzina oleh wanita kaya dan berkedudukan dan berparas indah namun ia menolak dg ucapan : aku takut pada Allah, dan orang yang bersedekah dengan sembunyi, hingga tangan kirinya tak tahu bahwa tangan kanannya bersedekah, dan orang yang ketika mengingat / menyebut Allah mengalir airmatanya” (Shahih Bukhari)</p>
<p lang="id-ID">
<p lang="id-ID">Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Yang Kekal dan Abadi, yang telah membangun istana–stana yang megah dan mewah yang kekal dan abadi untuk hamba – hamba beriman. Telah dibangun dengan semewah – mewah dan semegah – megahnya. Menjadi semakin indah dan semakin mewah dengan amal – amal ibadah hamba – hambaNya dan Allah menyiapkan anugerah yang melebihi segenap anugerah. KeridhoanNya yang abadi untuk hamba – hambaNya yang beriman. Demikian sepanjang waktu dan zaman, sepanjang turunnya Adam alaihi shaalatu wassalam hingga Nabi terakhir Rahmatan Lil Alamin (Sayyidina Muhammad saw).</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Kebangkitan Sang Nabi saw 14 abad  yang silam membawa terbitnya matahari Alquran dan Risalah. Menuntun kepada kemuliaan, menyampaikan tarbiyah nabawiyyah seagung – agung pembinaan, membuat jiwa yang kotor dengan seluruh sifat yang hina menjadi jiwa yang suci dengan sifat yang luhur. Jiwa – jiwa yang paling menyukai kehinaan, kejahatan, kekejian, kekotoran dan segala sifat tercela. Dituntun oleh cahaya terang – benderang yang diciptakan oleh Allah yang dikenali dengan </span><span lang="id-ID"><strong>sirajan muniira (pelita yg terang benderang sebagaimana firman Allah swt) </strong></span><span lang="id-ID">Sayyidina Muhammad Saw. Terang – benderang jiwa mereka dengan seluruh sifat yang luhur hingga tidak tersisa sifat yang mulia dan suci di alam terkecuali ada pada Para Sahabat radiyallahu &#8216;anhum wa ardhahum. </span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Oleh sebab itu dikatakan didalam syair mulia : Kita ini memiliki bulan purnama yang tiada pernah terbenam, matahari yang selalu bersinar dan tiada pernah terbenam yaitu tuntunan Nabi Muhammad Saw yang selalu mengajak dan menerangi hamba – hambaNya dari kegelapan menuju terang – benderang. Dicipta oleh Allah. </span><span lang="id-ID"><strong>Syamsur Risalah, Sirajan Muniira</strong></span><span lang="id-ID"> (Matahari bimbingan ilahi, Pelita yg terang benderang) Sayyidina Muhammad Saw.</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Semakin jiwa itu mendekat kepada tuntunan Sang Nabi Saw akan semakin Allah bimbing ia kepada keluhuran walaupun belum saat ini barangkali tapi akan segera muncul padanya keluhuran dan hal itu pasti.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Istana termegah dan termewah di surga adalah Istana Muhammad Saw. Semoga aku dan kalian diijinkan Allah kelak sering berkunjung ke Istana Nabi Muhammad Saw. Berjumpa dengan Ahlul Badr, berjumpa dengan Muhajirin dan Anshar dan semua orang – orang yang shalih dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Amiin</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Rabbiy Rabbiy.. sungguh kami telah melihat banyaknya orang – orang yang dimuliakan oleh orang Islam padahal mereka tidak pernah menyebut Nama Allah. Orang yang shalat, orang yang puasa, orang yang zakat tapi hatinya mencintai dan mengagungkan orang yang tidak pernah sujud pada Allah Swt. Rabbiy benahi jiwa muslimin – muslimat dan muliakan orang – orang yang dicintai Allah dan khususnya Nabiyyuna Muhammad Saw.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Hadits yang telah kita baca tadi, 7 kelompok yang dinaungi oleh Allah dihari tiada naungan kecuali naungan Allah. Tentunya banyak amal – amal mulia selain ini. Bukan hanya 7 ini tapi disini ada 1 khususiyyah dan tentunya ada ayat kemuliaan tentang hadits kemuliaan birrul walidain, ada juga hadits tentang kemuliaan jihad dan juga hadits tentang kemuliaan lain – lainnya. Akan tetapi Rasul saw menyimpulkan ada 7 kelompok disini. Masih banyak lainnya tapi Rasul saw dalam kesempatan ini menyebutkan 7 kelompok. Siapa mereka?</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Didalam riwayat Shahih Bukhari beberapa kali hadits ini teriwayatkan (lebih dari 4X teriwayatkan) hadits yang sama namun dengan urutan yang berbeda. Jadi kita tidak mengklasifikasikan mana yang pertama, yang paling afdhol atau yang terakhir. Karena hadits ini berkali – kali teriwayatkan, urutannya ada yang berbeda.</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID"><strong>Yang Pertama</strong></span><span lang="id-ID"> adalah </span><span lang="id-ID"><strong>Imam yang adil (pemimpin yang adil). </strong></span><span lang="id-ID">Pemimpin yang adil adalah tugas dan beban yang sangat berat. Oleh sebab itu dijanjikan oleh Sang Nabi saw ia berada didalam naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah. Apa maksudnya? Disaat matahari 1 jengkal diatas kepala mereka di padang mahsyar, hanya orang – orang yang dinaungi oleh Allah, ia tidak terkena terang – benderang teriknya matahari. Mereka dalam kesejukkan. Siapa? Diantaranya 7 kelompok itu. Pemimpin – pemimpin yang adil. Kita lihat bagaimana Sang Nabi Saw, tentunya panutan yang utama dari semua panutan adalah Sayyidina Muhammad Saw.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Beliau saw menghakimi dan mengadili, namun pada tempatnya dan jelas. Sebagaimana ketika telah selesai kejadian perang uhud. Disaat kejadian salah satu peperangan. Riwayat Shahih Bukhari, Rasul saw membawa ghanimah (hasil rampasan perang) bukan di perang uhud. Dan disaat itu ghanimah ini dibagi – bagikan kepada muhajirin dan muallaf. Muhajirin adalah orang yang berangkat dari Makkah meninggalkan rumahnya dan meninggalkan perdagangannya dan hartanya untuk berhijrah ke Madinah Al Munawwarah. Maka diberikanlah harta – harta ghanimah itu kepada para muhajirin dan muallaf (orang yang baru masuk Islam). Anshar tidak diberi. Maka ada diantara kaum anshar yang nyeletuk “</span><span lang="id-ID"><strong>kalau bagian jihad kami dipanggil, kalau pembagian ghanimah kami tidak diberi”.</strong></span><span lang="id-ID"> Rasul saw mendengar, sampai ke telinga Rasul saw hal itu. Maka dipanggil oleh Sang Nabi saw kaum anshar semuanya. “</span><span lang="id-ID"><strong>Wahai kaum anshar, kuberikan harta keduniawian kepada muhajirin dan muallaf dan kuberikan diriku untuk kalian”, “mereka pulang membawa harta dan kalian pulang membawa aku”,</strong></span><span lang="id-ID"> kata Rasul. “</span><span lang="id-ID"><strong>Apakah kalian puas?”</strong></span><span lang="id-ID"> maka berteriak kaum anshar dengan gembira “</span><span lang="id-ID"><strong>cukup ridho ya Rasulullah kami senang, pulang kami membawamu ke kampung kami”. </strong></span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Dan memang Rasul saw itu pulangnya ke Madinah Al Munawwarah, tidak ke Makkah atau kemana. Demikian cara beliau saw menangani. Tentunya Sang Nabi saw bisa bicara dengan lugas dan tegas “</span><span lang="id-ID"><strong>wahai kaum anshar, kalian bukan orang yang butuh, yang butuh muhajirin dan muallaf. Kalian punya tanah, kalian punya harta, kalian punya toko, kalian menguasai pasar, sedangkan mereka tidak”.</strong></span><span lang="id-ID"> Pantasnya Rasul berkata seperti itu tapi Rasul saw tidak mau menyakiti mereka. Namun tetap tidak memberikan kepada anshar tetapi menghibur kaum anshar dengan ucapan “</span><span lang="id-ID"><strong>aku memberikan diriku untuk kalian”. </strong></span><span lang="id-ID">Demikian imam yang adil pada tempatnya namun selalu berusaha didalam tawassuth (dipertengahan tidak condong pada salah satu) dan juga adil disini adalah selalu berusaha untuk menenangkan jiwa mereka menerima keadilan itu.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Demikian dengan khalifah – khalifah selanjutnya. Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum, Sayyidina Umar, Sayyidina Ali, Sayyidina Utsman. Mereka adalah pemimpin – pemimpin yang adil. Dan mereka sebagaimana diriwayatkan ketika Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu didatangi seorang yang mengadukan. Pengaduannya “</span><span lang="id-ID"><strong>wahai amirul mukminin, tetanggaku mencuri dariku. Aku minta dia dihukum”.</strong></span><span lang="id-ID"> Dipanggil tetangganya “</span><span lang="id-ID"><strong>apa hukumannya?”, “hukumannya potong tangan, potong tangannya wahai amirul mukminin karena dia mencuri dari hartaku”. </strong></span><span lang="id-ID">Maka Sayyidina Umar bin Khattab bertanya kepada sang pencuri “</span><span lang="id-ID"><strong>kenapa kau mencuri?”, “lapar ya amirul mukminin”. </strong></span><span lang="id-ID">Merah padam wajah Sayyidina Umar bin Khattab seraya berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>wahai engkau yang dicuri, engkau yang akan kuhukum”.</strong></span><span lang="id-ID"> Diberi hukuman ‘itaab, apa itu itaab? yaitu hukuman, bisa penjara bisa denda. “</span><span lang="id-ID"><strong>Kenapa yg dicuri yg dihukum..?”, “karena tetanggamu lapar, kau tidak tahu..!!”.</strong></span><span lang="id-ID"> Demikian imam yang adil.</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Disaat sekarang ini banyak sekali musuh – musuh Islam yang berusaha menghancurkan keimanan muslimin dengan menyebut hukum – hukum Islam yang mereka rasakan tidak adil atau kejam. Diantaranya hukum rajam bagi pezina, diantaranya hukum potong tangan bagi yang mencuri. Tentunya hal ini tidak bisa diputus satu – persatu. Syari’ah Islamiyyah tidak bisa diputus satu – persatu tapi justru bagaikan rantai yang saling mengikat.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Hukum potong tangan tidak bisa diberlakukan terkecuali sudah ada Baitul Maal yang menjamin tidak ada orang yang lapar. Buktinya Sayyidina Umar bin Khattab menghukum orang yang dicuri bukan orang yang mencuri. Ini menunjukkan kalau sudah suatu wilayah mempunyai baitul maal, tidak ada yang kelaparan, semua yang lapar sudah disantuni, semua yang fakir disantuni dan masih ada yang mencuri maka diberilah hukum potong tangan. Betapa kejamnya, kenapa? agar supaya ia malu dan malunya itu membuat orang lain tidak berani mencuri. Demikian di dalam Islam, kelihatannya hukumnya terlalu kejam tetapi kalau seandainya saja hukuman itu ringan, akan banyak orang yang berbuat tapi sebelumnya benahi dulu penyebab – penyebab yang membuat hal itu agar tidak terjadi terkecuali oleh orang – orang yang betul – betul memiliki sifat yang tercela. Ini contohnya yang pertama.</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Dan yang kedua mengenai zina. Muncul pertanyaan pada saya di website, di surat dan lain sebagainya. Ada yang berbicara di televisi katanya “</span><span lang="id-ID"><strong>hukum orang yang berzina itu tidak akan bisa dihapus dosanya terkecuali dengan dirajam atau dicambuk bagi yang belum menikah”.</strong></span><span lang="id-ID"> Betul itu, tapi di wilayah yang sudah berjalan dengan khilafah islamiyyah. Tidak ada ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita), tidak ada lagi gambar porno di jalanan, tidak ada lagi film yang mengajarkan tarbiyah untuk berbuat zina di televisi, tidak ada lagi wanita membuka auratnya. Kalau sudah aman seperti itu, hukum rajam berjalan bagi mereka yang bersumpah 4X dengan Nama Allah bahwa ia betul – betul berzina, lalu dihukum rajam. Kalau ada yang mengaku si fulan berzina, tidak bisa dilakukan hukum rajam terkecuali 4 saksi. 4 saksi yang menyaksikan melihatnya berbuat zina. Bukannya laki dan perempuan masuk kamar berdua, keluar pakaiannya terlihat agak acak – acakkan, tidak cukup itu. Tapi harus melihat perbuatan jima’ dan zina dengan matanya sendiri (4 orang).<br />
Ini kan mustahil..!, terkecuali kalau yang memperbuatnya di jalanan atau di tempat umum atau ia sendiri yang memintanya. Dan Rasul saw sendiri ketika diminta seseorang yang telah berzina meminta dihukum rajam, beliau tidak langsung mengatakan “</span><span lang="id-ID"><strong>oh..kau berzina, langsung dihukum”. </strong></span><span lang="id-ID">Tidak, beliau berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>apakah kau ini gila?”, “tidak ya Rasulullah”, “apakah kau ini tidur?”, “tidak ya Rasulullah”. </strong></span><span lang="id-ID">4X ia bersumpah lalu dijalankan hukum itu. Jadi kalau melihat hukum jangan dipotong – potong. Benar hukum zina itu dirajam tapi kalau sudah terjadi khilafah islamiyyah. Pria dan wanita sudah tidak ada percampuran, tidak ada lagi gambar porno, film porno dan lain sebagainya sudah aman, masih berzina juga apalagi di depan umum, pantas dirajam. Kenapa? supaya yang lain tidak ikut – ikutan berbuat hal itu karena yang pantas berbuat itu adalah orang – orang yang benar – benar mempunyai sifat yang keji dan perbuatan itu membuat ia terhapus dari dosanya.</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Lalu kalau pezina zaman sekarang, apa hukumannya? hukumannya adalah taubat kepada Allah Swt. Apakah bisa diampuni? tergantung taubatnya. Apakah 40 tahun amalnya tidak diterima? ya, kalau 40 tahun ia menunda taubatnya. Allah Swt melimpahkan pengampunan secepat orang itu bertaubat. Semakin cepat orang itu bertaubat, secepat itu pengampunan Allah Swt.</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID"><br />
</span><span lang="id-ID"><strong><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;">(Firman Allah) “Terkecuali mereka – mereka yang beriman dan beramal shalih, bertaubat dari dosa – dosanya. Allah ganti dosa – dosanya dengan pahala (QS Alfurqan 70)</span></strong></span><span lang="id-ID"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;"> bukan dihapus, tapi diganti dengan pahala. Demikian dahsyatnya sambutan Kasih Sayang Illahi bagi mereka yang mau bertaubat.</span></span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Lalu seandainya diantara kita masih ada yang berat melakukan taubat, semoga dicabut berat dari hati kami untuk melakukan taubat. Sebagian diantara kita merasa dalam hati kalau aku taubat nanti, besok berbuat lagi maka belum berani taubat. Taubat sekarang, besok serahkan pada Allah. Kalau besok terjebak dosa lagi, taubat lagi besok. Jangan bosan – bosan bertaubat kalau seandainya tidak bosan berbuat dosa.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Kita zaman sekarang bosan bertaubat tapi tidak bosan berdosa. Meskinya sebaliknya kalau tidak maka biarkan berbarengan, dosa taubat dosa taubat dosa taubat, jangan tinggalkan 1 dosa terkecuali diikuti 1 taubat. Lalu bagaimana nanti kalau dosa lagi, munafikkah ?. (jawabannya) Bukan urusanku masa yang akan datang, nanti masa yang akan datang kita serahkan pada Allah. Aku mau taubat dari sekarang dari semua yang dilarang Allah. Bagaimana nanti kalau berbuat lagi? aku akan bertaubat lagi. Sebagaimana aku selalu terjebak dalam dosa, akupun tidak akan bosan untuk bertaubat kepada Allah. Orang seperti ini akan dibimbing oleh Allah dan ia tidak akan wafat terkecuali dalam keadaan orang yang bertaubat.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><span lang="id-ID"><strong>Yang kedua </strong></span><span lang="id-ID">adalah </span><span lang="id-ID"><strong>pemuda yang tumbuh didalam ibadah kepada Allah.</strong></span><span lang="id-ID"> Yang masih muda ibadahnya, mulai dari usia muda sudah banyak ibadah. Siapa mereka? diantaranya kita.Rasulullah saw bersabda “</span><span lang="id-ID"><strong>saat pertama kali risalahku bangkit, pemuda yang membantuku menegakkan risalah dan orang – orang yang tua meninggalkanku dan mendustakanku”. </strong></span><span lang="id-ID">Agama ini bangkit dengan kebangkitan pemuda, kemerdekaan negara ini didapatkan dengan pemuda. Demikian juga kemajuan Islam ini akan muncul dengan kebangkitan pemuda yang ingin membenahi wilayahnya sendiri.</span></p>
<p align="justify">“<span lang="id-ID"><strong>Innallaha laa yughayyiru maa biqaumim hattaa yughayyiru maa bi anfusihim” QS. Ar-Ra’d : 11 </strong></span><span lang="id-ID">(Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka sendiri yang mau merubahnya). Itu sebagian orang mengatakan “</span><span lang="id-ID"><strong>ya sudah kalau ia sudah tidak mau merubah dirinya, Allah tidak akan merubah suatu kaum”. </strong></span><span lang="id-ID">(Tidak demikian), Justru ini janji Allah. Kalau suatu kaum ada diantara mereka yang ingin merubah dirinya, merubah kaumnya menjadi baik, maka Allah yang akan merubah kaum itu menjadi baik. Karena Allah berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>Aku tidak akan merubah suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubah dirinya”. </strong></span><span lang="id-ID">Berarti jika ada yang ingin diantara mereka merubah keadaan kaumnya, Allah yang akan merubahnya.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah seorang pemuda keluar terburu – buru setelah wudhu masuk kedalam shaf shalat. Salah seorang sahabat berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>law ra aahu Rasulallah La ahabbahu”, </strong></span><span lang="id-ID">pemuda seperti ini kalau Rasulullah melihatnya akan mencintainya. Karena Rasul saw saat itu telah wafat. Menunjukkan apa? pemuda ini, hanya wudhu lantas buru – buru masuk kedalam shaf shalat. Para sahabat pada saat jamaah pertama sudah melakukan shalat, jamaah kedua datang, pemuda ini setelah wudhu terburu – buru masuk ke shaf untuk ikut shalat berjamaah. Berkatalah salah seorang sahabat yaitu Abdullah Ibn Umar “</span><span lang="id-ID"><strong>kalau Rasulullah melihat ini, pasti Rasulullah mencintainya”.</strong></span><span lang="id-ID"> Rasul itu menyukai pemuda, Rasulullah itu mencintai pemuda.</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Semoga Allah Swt membenahi kita semua, khususnya yang dari Jakarta ini dan di seluruh wilayah Indonesia serta seluruh umat muslim didunia dengan kebangkitan pemuda yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, memuliakan Nabi Muhammad Saw.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><span lang="id-ID"><strong>Yang ketiga</strong></span><span lang="id-ID"> adalah </span><span lang="id-ID"><strong>orang yang hatinya selalu terikat pada masjid.</strong></span><span lang="id-ID"> Hatinya cinta masjid walaupun tidak selalu berada di masjid. Masjid tempat yang ia jadikan sebagai tempat yang nikmat. Tempat yang dijadikan tempat ketenangan adalah masjid.<br />
Sifat seperti ini sirna diantara muslimin khususnya pemuda. Kalau sedang datang gundah, para pemuda kita khususnya tentunya mencari tempat hiburan (café, diskotik barangkali) tapi kita tentunya coba dan coba cari ketenangan itu di masjid. Gundah saya ini mau cari ketenangan, coba masuk ke masjid. Kau akan dapatkan ketenangan yang jauh lebih daripada di pasar – pasar, di tempat – tempat café, atau direstoran atau tempat lainnya. Enak ini makan dipinggir jalan sambil menenangkan diri kita, Wallahi kesejukkan yang ada di masjid akan kau dapatkan lebih dari itu. Untuk apa? untuk mendapatkan ilmu. </span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Tadi yang pertama Imam yang adil dinaungi nanti oleh Allah swt di yaumal qiyamah, yang kedua pemuda yang tumbuh didalam taat pada Allah Swt (semoga kita dalam kelompok ini, amin). Yang ketiga orang yang hatinya terikat dengan masjid, senang dengan masjid, asyik dengan masjid.</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Sekarang dimasa ini, orang lewat masjid itu tidak ada bergetar hatinya. Di zaman dulu, Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhum ada 2 orang mengangkat suara agak keras di masjid nabawiy, dipanggil oleh Sayyidina Umar. Riwayat Shahih Bukhari. “sini kalian”, “</span><span lang="id-ID"><strong>min ayna antumaa?”</strong></span><span lang="id-ID">orang mana kalian ini?, “</span><span lang="id-ID"><strong>orang tha’if”,</strong></span><span lang="id-ID"> maka berkata Sayyidina Umar ra : “</span><span lang="id-ID"><strong>law kuntuma min ahli hadzal balad La awja’tukuma, tarfa’aan ashwaatakumaa fi masjidil Rasulillah saw”</strong></span><span lang="id-ID"> untung kalian orang ba’da tha’if (dari luar Madinah) kalau kalian orang sini, kata Sayyidina Umar “</span><span lang="id-ID"><strong>akan aku hukum kalian karena berani mengeraskan suara di masjidnya Rasulullah saw”. </strong></span><span lang="id-ID">Demikian adabnya Sayyidina Umar bin Khattab ke masjidnya Rasul saw. Mengangkat suara tidak boleh padahal ayatnya untuk Sang Nabi saw bukan untuk masjid nabawiy.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Ayat turun “</span><span lang="id-ID"><strong>..laa tarfa’u ashwatakum fauqashawtinnabiy wala tajharuu lahuu bilqauli kajahriba’dhikum liba’dhin antahbatha a’malukum wa antum laa tasy’urun” QS. Al Hujurat : 2. </strong></span><span lang="id-ID">Didalam surat Al Hujurat, ayat itu dilarang mengeraskan suara dihadapan Rasulullah bukan di masjid tetapi setelah Rasul saw wafat pun Sayyidina Umar menjaga itu di masjid nabawiy.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Masjid adalah tempat Baitullah (rumah keridhoan Allah, istana keridhoan Allah) yang di pintu – pintunya berdiri para malaikat yang mencatat mereka yang masuk kedalamnya. Catat yang masuk kesini, kalau kita masuk ke istana kan ada penjaganya. Kalau dimasjid ada juga malaikat yang menyaksikan mereka yang hadir di masjid dan mereka berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>Allahumma firlahum allahumma warhamhum” </strong></span><span lang="id-ID">Wahai Allah ampuni dia, Wahai Allah sayangi dia, sepanjang kalian duduk di masjid Cari ketenangan di masjid, ikat hati kita dengan masjid, makmurkan masjid niscaya kau akan dinaungi Allah Swt disaat tiada naungan kecuali naungan Allah Swt.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID"><strong>Yang keempat</strong></span><span lang="id-ID"> adalah “</span><span lang="id-ID"><strong>rajulan tahaabbaa fillah”,</strong></span><span lang="id-ID"> 2 orang teman atau orang yang berteman karena Allah. Bukan karena bisnis, bukan karena teman sekolah, bukan karena tetangga tapi karena Allah. Maksudnya seperti bagaimana? Seperti kita disini. Yang satu dari Bekasi, yang satu dari Depok, yang satu dari Jakarta Timur, Jakarta Selatan bertemu disini, kenalan disini. Ini bukan untuk dagang, bukan untuk apa – apa tapi karena Allah, karena majelis taklim, majelis dzikir seperti ini. Saling sms kalau tidak saling ketemuan dimana, majelis malam ahad yang akan datang, malam senin dimana, malam kamis. Hal seperti ini dihargai oleh Allah Swt dan mereka tidak berpisah itu juga terkecuali oleh karena Allah. Maksudnya apa? ketika temannya keluar pindah agama maka ia berubah pula kepada temannya tidak seperti dahulu. Kenapa? temannya tidak lagi taat kepada Allah Swt. </span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Beda antara cinta dan perduli, kalau perduli semua kafir yang paling jahat pun Rasulullah perduli dan mendoakan untuk mereka tapi bukan cinta. Karena Allah Swt berfirman “</span><span lang="id-ID"><strong>laqad jaa akum rasulun min anfusikum a’ziizun a’laihi maa a’nittum hariishun a’laikum bil mu’miniina raufurrahiim” QS. At Taubah : 128. </strong></span><span lang="id-ID">Sayangnya untuk orang – orang muslimin, untuk yang diluar islam beliau peduli. Agar apa?, agar mereka masuk kedalam Islam. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika seorang anak yahudi ada yang mau berkhidmah kepada Nabi saw tapi belum mau masuk Islam, diterima oleh Rasul saw. Masuk ke rumahnya Rasul, khidmah kepada Rasul, bawakan sandalnya, bawakan airnya sampai suatu hari ia sakit dan sakit yang membawa kematian. Rasul menjenguk yahudi (non muslim), ayahnya yahudi juga. Ketika sakit Rasul melihat ini anak sudah dekat dengan sakaratul maut maka Rasul berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>qul laailahailallah” </strong></span><span lang="id-ID">katakan laailahailallah wahai anak. Pemuda itu tidak berani menyebut “</span><span lang="id-ID"><strong>laailahailallah”</strong></span><span lang="id-ID"> terkecuali melirik ayahnya dulu. Ayahnya ijinkan tidak, ayahnya yahudi juga. Maka ayahnya berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>athi’ abal qasim”</strong></span><span lang="id-ID"> taati abal qasim. Ayahnya tidak mau mengakui Rasulullah saw tapi ayahnya tahu ia orang baik, yaitu Nabi Muhammad saw, maka ayahnya berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>taati abal qasim” </strong></span><span lang="id-ID">maka anak itu mengucapkan “</span><span lang="id-ID"><strong>laailahailallah”</strong></span><span lang="id-ID"> wafat. Keluar Rasul dari rumahnya, sahabat melihat wajahnya rasul cerah gembira. “</span><span lang="id-ID"><strong>Ya Rasulullah apa yang membuat engkau sedemikian gembira hingga cerahnya wajahmu”, </strong></span><span lang="id-ID">Rasul berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>Alhamdulillahiladzi qad hadaah”</strong></span><span lang="id-ID"> Alhamdulillah yang telah memberi ia hidayah. Demikian saudara-saudarku yang dimuliakan Allah.</span></p>
<p align="justify"><span lang="id-ID"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;">Beda dengan kafir harbi. Ada orang – orang non muslim yang memerangi muslimin, disebut kafir harby,. Demi</span></span><span lang="id-ID">kian kelompok – kelompok kafir, kelompok kafir itu ada 2 ada zimmi dan ada harbi. Zimmi adalah kafir yang baik dan Harbi adalah kafir yang memerangi. Beda hukumnya, sebagaimana ada dalam riwayat yang tsigah ketika salah seorang yahudi hidup bertetangga dengan Rasul di Madinah. Orang yahudi hidup di Madinah juga bersama 1 kota dengan Rasul. Tapi sewaktu – waktu ketika seorang wanita muslimah (tentunya memakai hijab, memakai jilbab) seorang yahudi usil. Diikatlah jilbabnya itu dengan salah satu kaki meja dan saat ia berjalan terbuka hijabnya, ia berteriak (wanita muslimah ini). Muslimin berdiri bangkit, orang yahudi juga berdiri membela. Terjadi perpecahan disitu, Rasul saw segera membelah perpecahan dan menahan daripada perpecahan dan mengusir semua yahudi dari Madinah Al Munawwarah. Kalau damai diijinkan hidup bersama, kalau tidak damai maka lain halnya. Demikian di Palestina, demikian di Poso, demikian di Kasymir dan lain – lain.</span></p>
<p lang="zxx" align="justify">
<p align="justify"><span lang="zxx"><strong>Yang kelima </strong></span><span lang="zxx">adalah pria yang diajak berzina oleh seorang wanita yang indah wajahnya dan mempunyai harta dan jabatan, ia menjawab “</span><span lang="zxx"><strong>inniy akhafullah” </strong></span><span lang="zxx">(sesungguhnya aku takut pada Allah). Hadits ini Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan ini bukan khusus untuk pria tapi juga untuk wanita yang diajak berzina oleh pria yang memiliki jabatan dan harta. Orang yang diajak berzina lalu ia menolaknya dengan ucapan “inniy akhafullah” atau dengan bahasanya masing – masing “</span><span lang="zxx"><strong>sungguh aku takut dan risau kepada Allah”.</strong></span><span lang="zxx"> Orang yang menjawab ini kepada orang yang mengajak berzina, tidak dilupakan kalimat yang terucap dari bibir dan hatinya, Allah naungi ia di yaumal qiyamah di hari tiada naungan selain naungan Allah. </span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;">Diriwayatkan didalam Mukasyafah Al Qulub yang juga riwayatnya teriwayatkan didalam </span></span><span lang="zxx">Shahih Bukhari secara ringkas. Ketika seorang wanita tidak mempunyai kemampuan untuk menafkahi anak – anaknya sehingga ia terjebak kepada kebutuhan dan ia mengetuk pintu seorang penguasa. Seorang kaya – raya dan seorang kaya – raya membuka pintu “</span><span lang="zxx"><strong>apa niatmu wahai wanita?”</strong></span><span lang="zxx"> wanita itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>aku butuh uang untuk anak &#8211; anakku”</strong></span><span lang="zxx"> maka orang kaya itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>kalau kau butuh uang padaku maka boleh saja tapi aku mau berzina denganmu dan berkumpul denganmu. Kuberikan apa yang kau mau”. </strong></span><span lang="zxx">Wanita itu menolak dan pulang, sampai dirumah melihat anaknya yang lapar. Minta kesana – kemari tidak ada yang memberi dan akhirnya ia putus asa dan kembali. Kembali kepada pria itu dan berkata “</span><span lang="zxx"><strong>ya sudah kalau begitu, aku pasrah saja”. </strong></span><span lang="zxx">Pria itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>aku akan bantu kau dengan lebih yang kau minta”.</strong></span><span lang="zxx"> Tapi ketika ia sudah didekati oleh pria itu, bergetarlah wanita ini dengan gemetar yang dahsyat. “</span><span lang="zxx"><strong>Kenapa kau ini”,</strong></span><span lang="zxx"> kata pria itu. Wanita itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>aku takut pada Allah”.</strong></span><span lang="zxx"> Ucapan itu menggetarkan jiwa sang pria yang kaya – raya ini karena keluar dari hati yang penuh iman. Kalau hati yang penuh iman kau berucap menggetarkan orang lain. Maka wanita yang tidak berdaya dan miskin berkata “</span><span lang="zxx"><strong>aku takut pada Allah”.</strong></span><span lang="zxx"> Pria kaya ituberkata “</span><span lang="zxx"><strong>kau ini sudah miskin, cobaanmu berat, sudah sulit hari – harimu, mau menjual dirimu tidak mau karena takut pada Allah. Sedangkan aku diberi kenikmatan yang banyak oleh Allah, aku mestinya lebih takut dan risau daripada engkau. Sudah ini uang aku berikan kau pulang dan aku taubat pada Allah”.</strong></span><span lang="zxx"> Ini riwayat Shahih Bukhari. </span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Dalam riwayat lainnya Kitab Mukasyafah Al Qulub oleh Imam Al Ghazali, ketika seorang pria senang dengan seorang wanita. Ingin dekat dengannya dan ingin lebih dari itu. Diikutilah kemana wanita ini pergi. Sewaktu – waktu wanita ini ingin pergi ke tempat yang jauh (kalau zaman dahulu namanya kafilah) kalau sekarang pakai bus atau kereta api atau pesawat atau kapal laut. Ini dengan kafilah (rombongan), wanita ini ikut ia juga ikut. Satu malam sepi, banyak orang sudah tidur. Perempuan ini belum tidur, didekati olehnya. Kenalan, mulai hal yang lebih wanita itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>sebentar – sebentar saudaraku sebelum kita teruskan kemauan kita”,</strong></span><span lang="zxx"> kata sang wanita “</span><span lang="zxx"><strong>lihat dulu apa semua orang sudah tidur”. </strong></span><span lang="zxx">Pria dengan senangnya kesana – kemari “</span><span lang="zxx"><strong>semua sudah tidur”.</strong></span><span lang="zxx"> Wanita berkata “</span><span lang="zxx"><strong>apa ada yang melihat kita?”, “tidak ada yang melihat, semuanya sudah tidur”. </strong></span><span lang="zxx">Wanita itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>apakah Allah tidur?”,</strong></span><span lang="zxx"> pria itu kaget dan ia berkata “</span><span lang="zxx"><strong>Allah tidak tidur”. </strong></span><span lang="zxx">Lalu wanita itu berkata “</span><span lang="zxx"><strong>apakah Allah tidak melihat?”,</strong></span><span lang="zxx"> pria semakin terdesak dan ia menjawab “</span><span lang="zxx"><strong>Allah melihat”, “lalu kau mau terus berbuat dan Allah melihatmu?”. </strong></span><span lang="zxx">Pria itu menangis dan berkata “</span><span lang="zxx"><strong>aku bertaubat pada Allah Swt”. </strong></span><span lang="zxx">Berapa minggu kemudian terdengar kabar oleh sang wanita bahwa pria itu wafat. Ia mimpi didalam tidurnya jumpa dengan pria itu didalam kenikmatan. “</span><span lang="zxx"><strong>Engkaukah pria yang jumpa di malam itu? hampir saja kita berbuat dosa dan tidak jadi”, “iya betul”. “Koq sekarang kau begitu mulanya setelah kau wafat?”,</strong></span><span lang="zxx"> ia berkata “</span><span lang="zxx"><strong>terima kasih wahai wanita yang sejak kau menegurku itu, aku bertaubat pada Allah dan Allah membimbingku pada kemuliaan”. </strong></span><span lang="zxx"><span>D</span></span><span lang="zxx">emikian indahnya taubat dan demikian Allah menaungi mereka.</span></p>
<p lang="zxx" align="justify">
<p align="justify"><span lang="zxx"><strong>Yang keenam adalah orang yang bershadaqah dengan sembunyi – sembunyi, kata Rasul saw sampai tangan kanannya memberi dan tangan kirinya tidak tahu.</strong></span><span lang="zxx"> Maksudnya adalah ketika ia memberi itu sangat tersembunyi. Bagaimana contohnya? Contohnya ada orang fuqara berdagang (orang miskin / orang susah yang berdagang). Ini berapa harganya? misalnya Rp. 10.000,-. Tahu kita ini harganya Rp. 8.000,- bayarkan Rp. 10.000,-, kalau saya tawar harganya Rp. 8.000,- pasti diberi karena memang harganya Rp. 8.000,- misalnya. Ia langsung beli tanpa menawar. Maksudnya shadaqah untuk si penjual. Ini yang disedekahi pun tidak tahu bahwa ia disedekahi. Sang penjual tahunya ini orang tidak menawar langsung membeli, padahal sebenarnya ia mau bershadaqah. Ini jangankan orang lain tahu, namun bahkan yang disedekahi pun tidak tahu kalau ia sedang disedekahi. Orang yang seperti ini dinaungi oleh Allah Swt di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt. </span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah seorang yang mengumpulkan hartanya yang banyak untuk bershadaqah sembunyi – sembunyi. Ia kumpulkan uang sampai berjumlah sekian ribu dinar dalam 1 tahun. Kerja khusus untuk bershadaqah tapi sembunyi – sembunyi. Sudah terkumpul, pergi keluar malam hari. Dilihat ada seorang wanita tidur di jalanan. “</span><span lang="zxx"><strong>Wah ini orang susah”, </strong></span><span lang="zxx">kasih uang ia menutup wajahnya memberikan bungkusan uang itu dan lari supaya tidak diketahui wajahnya. Pagi hari gempar di kampung. Ada pelacur diberi shadaqah oleh orang sembunyi – sembunyi. Ia berkata “</span><span lang="zxx"><strong>Subhanallah!! Salah beri, aku kira wanita susah ternyata pelacur”, “Ya Rabb aku setahun mengumpulkan uang untuk dapat pahala shadaqah yang sembunyi – sembunyi ternyata uang ku untuk pelacur”. </strong></span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Tapi ia tidak putus asa, ia kumpulkan lagi uang sampai setahun yang jumlahnya sekian ribu dinar. Sekarang aku tidak mau tertipu, pilih – pilih dulu. Dilihatnya orang sedang duduk diam saja di satu tempat yang gelap. “</span><span lang="zxx"><strong>ini pasti orang susah”,</strong></span><span lang="zxx"> diberi padanya lalu lari. Paginya gempar lagi, pencuri sedang ingin mencuri mendapat uang shadaqah dengan jumlah uang yang besar. “</span><span lang="zxx"><strong>Ya Rabb 2 tahun aku bekerja khusus untuk memberi nafkah orang yang susah dengan sembunyi – sembunyi. Tahun pertama pelacur, tahun kedua pencuri”. </strong></span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Ia tidak jera, kumpulkan lagi sampai 1 tahun. “</span><span lang="zxx"><strong>Ya Rabb ini yang terakhir, kalau sudah masih lagi sampai shadaqah bukan kepada mustahiq, selesai Ya Rabb aku tidak mampu lagi”.</strong></span><span lang="zxx"> Dia lihat orangtua tengah malam jalan sendiri dengan tongkatnya tertatih – tatih. “</span><span lang="zxx"><strong>Wah ini orang yang pasti berhak, malam – malam begini orangtua jalan malam &#8211; malam dengan tongkat pasti orang susah”.</strong></span><span lang="zxx"> Dilemparnya uang itu “</span><span lang="zxx"><strong>ini untukmu”</strong></span><span lang="zxx"> dan ia pun pergi. Pagi hari gempar lagi kampung, “</span><span lang="zxx"><strong>ada kabar apa?”</strong></span><span lang="zxx"> orang paling kaya dan paling kikir dapat uang semalam oleh orang yang shadaqah sembunyi – sembunyi. “</span><span lang="zxx"><strong>Ya Rabb yang pertama pelacur, yang kedua pencuri, yang ketiga orang paling kaya dan paling kikir di kampungnya. Ya Rabb apa arti dari perbuatanku?”. </strong></span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Ia pun diam, sekian tahun kemudian&#8230; 20 tahun kemudian, Allah Swt sampaikan kabar padanya ada dua orang ulama besar adik kakak. Muridnya puluhan ribu dan ia termasuk orang yang asyik dengan ulama itu. Ini ulama adik kakak dua – duanya orang yang sangat luar biasa ilmunya luas, pengikutnya puluhan ribu. Ia berkata “</span><span lang="zxx"><strong>Subhanallah!! ini ulama adik kakak siapa ayahnya?”. </strong></span><span lang="zxx">Kasak – kusuk tanya kesana – kemari ternyata 2 orang anak itu adalah ibunya seorang pelacur dulu tengah malam ada yang memberi shadaqah sembunyi – sembunyi. Ibunya itu melacur untuk nafkah anaknya maka ia taubat dari pelacurannya dan ia sekolahkan kedua anaknya dengan hartanya itu. Allah jadikan dengan harta itu anak ini jadi orang baik menjadi ulama besar dan pahalanya kembali padanya. Airmatanya mengalir, ternyata yang kuberikan 20 tahun yang lalu Allah menjadikannya berlipat ganda sampai muncul 2 orang ulama shalih sampai puluhan ribu orang yang beribadah mengikuti ilmunya dan pahalanya untuk dia. Ini keikhlasan seseorang.</span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Tidak lama kemudian ia dengar lagi ada seorang wali shalih wafat. Masya Allah ratusan ribu yang mengantar jenazahnya. Siapa orang itu? Orang itu dulu pencuri, saat ia sedang mencuri ia berdoa kepada Allah “</span><span lang="zxx"><strong>Ya Rabb beri aku keluhuran kalau aku dapat rizqi malam ini aku taubat”.</strong></span><span lang="zxx"> Ada yang melemparinya uang lantas ia bertaubat ia bershadaqah, ia masuk ibadah dan ia tidak keluar dari tempat ibadahnya sampai Allah angkat ia menjadi orang yang shalih. </span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx">Lantas ia (orang yg bersedekah terharu atas dua kabar itu berkata) berdoa “</span><span lang="zxx"><strong>Ya Rabb tinggal yang ketiga, bagaimana dengan orangtua yang paling kaya dan kikir di kampung kami”. “oo orang itu sudah wafat tapi ia pindah ke tempat lain berwasiat mengirimkan seluruh hartanya untuk membangun Baitul Maal bagi para anak yatim sampai sekarang itu hartanya masih makmur”. </strong></span><span lang="zxx">Kenapa? gara – gara dia malu tengah malam katanya, dia yg kaya kikir, tengah malam ada yang sedekahi. Dia berkata “</span><span lang="zxx"><strong>ini orang sedekah padaku, sementara aku tidak pernah shadaqah. Aku nafkahkan seluruh hartaku dan harta ini untuk baitul maal” </strong></span><span lang="zxx">dan untungnya terus berlipat ganda sampai 20 tahun tidak berhenti. Orang inilah yang di hari kiamat dinaungi oleh Allah Swt.</span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx"><strong>Yang ketujuh adalah pria yang mengingat Nama Allah, pria yang menyebut Nama Allah maka mengalirlah airmatanya.</strong></span><span lang="zxx"> Entah karena rindu, entah karena doa, entah karena harapan, entah karena haru, entah karena risau akan dosa, entah karena besarnya harapan ingin masuk surga tapi ketika ia menyebut dan mengingat Nama Allah mengalir airmatany. Ternyata tetesan airmata dari perasaan seperti ini dilihat oleh Yang Maha Melihat dan membuat ia di nanungi oleh Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt. 7 kelompok diantaranya kelompok ini, kita berharap berada dikelompok yang ketujuh. Kelompok yang selalu mengingat Allah mengalir airmatanya. </span></p>
<p align="justify"><span lang="zxx"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;">Had</span></span><span lang="zxx">its yang kita baca belum sempat kita jelaskan, waktu kita sempit. Kita bermunajat kepada Allah Swt dan sebelumnya saya ingin menyampaikan pertanyaan tentang orang yang melakukan pengobatan dengan menggunakan air dari 7 sumur, apakah itu syirik? Hal itu sunnah, jadi jangan dikatakan syirik. Orang zaman sekarang tidak tahu hukum bicara syirik.</span></p>
<p lang="zxx" align="justify">Mandi dengan 7 sumur diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul saw saat sakit beliau minta air dari 7 qirbah (7 wadah air yang berbeda). Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa riwayat ini menunjukkan bolehnya berobat dari 7 sumber air yang berbeda, Imam Ibn Hajar dalam Fathulk Baari juga menukil riwayat Imam Ath-Thabrani bahwa Rasul saw minta air pengobatan dari 7 sumur yang berbeda. Jadi hal itu bukan hal yang sesat justru itu sunnah Nabi Muhammad Saw. Zaman sekarang banyak hal – hal yang sunnah karena tidak dipahami sebagian saudara kita dibilang bid’ah. Sampai ziarah saja kepada Rasul saw dipersulit sampai orang tidak boleh berdoa menghadap ke makamnya Rasul saw. Apa salahnya makam Rasul? Kalau doa menghadap kandang kuda tidak dilarang, kenapa menghadap makam Rasul saw dilarang? Naudzubillah dari pelarangan seperti ini.</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;">Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal</span></span><span lang="id-ID"><span style="background:transparent none repeat scroll 0 0;"> ik</span></span><span lang="id-ID">ram, kami telah dengar sabdamu Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan bahwa kelak setelah aku wafat akan kalian lihat perpecahan, akan kalian lihat gempa bumi, akan kalian lihat musibah –musibah, akan kalian lihat banyak yang mengaku sebagai Nabi dan akan kalian lihat banyak terjadi pembunuhan dan setelah itu akan muncul kemakmuran yang menyeluruh di seluruh penduduk bumi bagi muslimin – muslimat dan disaat itu sabahat berkata “</span><span lang="id-ID"><strong>bagaimana keadaan mereka saat itu muslimin muslimat ya Rasulullah..?”, </strong></span><span lang="id-ID">Rasul berkata “bagi mereka sujud sekali lebih baik dari dunia dan segala isinya”. Menunjukkan muslimin muslimat yang mencintai sujud, yang mencintai ibadah, yang mencintai kemuliaan – kemuliaan yang dibawa oleh Allah. Mereka itulah yang akan dlimpahi kemakmuran dan jika muslimin sudah bangkit untuk meninggalkan dosa – dosa menuju taubat, menuju keluhuran, menuju kemuliaan, itu tanda kemakmuran akan segera dibangkitkan oleh Allah untuk muslimin muslimat.</span></p>
<br />Posted in Islamic Center  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ferryben.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ferryben.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=89&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/02/tujuh-kelompok-yang-dinaungi-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d80fc544b0acad4e3241c2854ceadca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ferryben</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Hari Jum&#8217;at</title>
		<link>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/01/adab-hari-jumat/</link>
		<comments>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/01/adab-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Center]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ferryben.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Dari tujuh hari dalam seminggu, hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri. Banyak ibadah yang dapat dilakukan pada hari Jum’at, selain tentunya kewajiban umat muslim untuk melakukan sholat Jum’at. Menurut sebuah riwayat, para malaikat membawa dan melaporkan amal ibadah manusia pada hari Jum’at. Itulah mengapa hari Jum’at sangat diagungkan oleh banyak umat muslim di dunia. Begitu banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=84&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="zxx" align="justify">Dari tujuh hari dalam seminggu, hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri. Banyak ibadah yang dapat dilakukan pada hari Jum’at, selain tentunya kewajiban umat muslim untuk melakukan sholat Jum’at. Menurut sebuah riwayat, para malaikat membawa dan melaporkan amal ibadah manusia pada hari Jum’at. Itulah mengapa hari Jum’at sangat diagungkan oleh banyak umat muslim di dunia.</p>
<p lang="zxx" align="justify">Begitu banyak keutamaan hari Jum’at, sehingga Rasulullah saw pun memberi petunjuk tentang bagaimana memuliakan hari Jum’at. Memperbanyak ibadah merupakan salah satu cara untuk memuliakan hari Jum’at. Berikut adalah tuntunan yang diberikan Rasulullah saw tentang cara-cara yang dapat kita lakukan untuk memuliakan hari tersebut, yang diambil dari majalah Al-Furqon.</p>
<p><strong><span lang="zxx">1. Memperbanyak Sholawat Nabi</span></strong></p>
<p style="margin-left:.18in;" lang="zxx" align="justify">Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)</p>
<p><strong><span lang="zxx">2. Mandi Jumat</span></strong></p>
<p style="margin-left:.19in;" lang="zxx" align="justify">Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong><span lang="zxx">3. Menggunakan Minyak Wangi</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong><span lang="zxx">4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)</p>
<p><strong><span lang="zxx">5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Abu Huroiroh radhiallahu‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong><span lang="zxx">6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" align="justify">“<span lang="zxx">Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)</span></p>
<p><strong><span lang="zxx">7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)</p>
<p><strong><span lang="zxx">8. Membaca Surat Al Kahfi</span></strong></p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)</p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">Semoga tulisan ini dapat membantu kita untuk meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah SWT<br />
Wallahu a’lam</p>
<p style="margin-left:.17in;" lang="zxx" align="justify">
<p lang="zxx"><strong>Sumber:</strong> Abu Abdirrohman Bambang Wahono (www.muslim.or.id)</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="zxx">
<br />Posted in Islamic Center  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ferryben.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ferryben.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=84&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ferryben.wordpress.com/2009/04/01/adab-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d80fc544b0acad4e3241c2854ceadca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ferryben</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbicara dan Mendengar</title>
		<link>http://ferryben.wordpress.com/2009/03/31/berbicara-dan-mendengar/</link>
		<comments>http://ferryben.wordpress.com/2009/03/31/berbicara-dan-mendengar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 11:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Center]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ferryben.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: KH Abdullah Gymnastiar Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Artinya, kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara. Mendengar harus dua kali lebih banyak, agar ucapan kita jadi lebih bermakna. Semoga Allah Yang Maha Mendengar menggolongkan kita sebagai orang-orang yang merasa didengar oleh-Nya. Merasa didengar oleh Allah adalah keutamaan yang akan menghalangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=75&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: KH Abdullah Gymnastiar</strong></p>
<p align="justify">Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Artinya, kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara. Mendengar harus dua kali lebih banyak, agar ucapan kita jadi lebih bermakna. Semoga Allah Yang Maha Mendengar menggolongkan kita sebagai orang-orang yang merasa didengar oleh-Nya.</p>
<p align="justify">Merasa didengar oleh Allah adalah keutamaan yang akan menghalangi kita dari maksiat lisan. Kata-kata kita sering menjadi dosa karena kita tidak merasa didengar oleh Allah.</p>
<p>As-Sami&#8217; adalah salah satu asma Allah yang berarti mendengar. As-Sami&#8217; berasal dari kata sami&#8217;a yang artinya mendengar. Jadi, Allah Maha Mendengar segala suara walaupun semut hitam yang merangkak di batu hitam di tengah belantara yang kelam.</p>
<p>Allah pasti mendengar apapun yang disuarakan oleh makhluk-makhluk-Nya, dalam bisikan yang paling halus maupun dalam hiruk pikuk kegaduhan. Allah pun Maha Mendengar orang yang hatinya selalu berzikir, walau di tempat tersembunyi atau di pangkalan pesawat terbang yang sangat bising. Hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari sifat As-Sami&#8217; ini? Ada dua hikmah yang dapat kita renungkan dari sifat Allah SWT ini.</p>
<blockquote><p><strong>Hikmah pertama, kita harus berhati-hati dalam menjaga lisan</strong>. Jangan bicara kecuali benar dan bermanfaat, karena setiap patah kata akan didengar oleh Allah dan harus kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Karena itu, kita harus selalu berpikir dan menimbang sebelum bicara. Bertanyalah selalu, pantaskah saya bicara seperti ini? Benarkah perkataan ini kalau saya ucapkan? Karena ada perkataan yang benar tapi tidak tepat situasi dan kondisinya.</p></blockquote>
<blockquote><p>Islam mengistilahkan kebenaran dalam perkataan sebagai qaulan sadiida. Apa syaratnya?</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Pertama harus benar</strong>. Benar di sini mengandung arti bahwa perkataan yang kita ucapkan harus sesuai dengan realitas yang terjadi, tidak menambah-nambah ataupun mengurangkan.</p></blockquote>
<blockquote><p>Abu Mas&#8217;ud ra berkata: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;Biasakanlah berkata benar, karena benar itu menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Hendaklah seseorang itu selalu berkata benar dan berusaha supaya tetap benar, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang as-siddiq (amat benar) (HR. Bukhari Muslim)</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Kedua, setiap kata itu ada tempat yang tepat dan setiap tempat itu ada kata yang tepat</strong>. Di sini tepat, tapi di tempat lain belum tentu tepat. Dengan orang tua tepat, tapi dengan anak belum tentu tepat. Dengan guru tepat, tapi dengan murid belum tentu tepat. Jadi dalam berbicara itu tidak cukup benar saja, tapi harus pandai pula membaca situasi dan objek yang kita ajak bicara.</p>
<p><strong>Ketiga, mengukur apakah kata-kata kita itu melukai perasaan orang atau tida</strong>k. Hal ini cukup penting, karena perasaan dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Jika kita mengatakan satu hal pada si A dan ia tidak tersinggung, bisa jadi si B yang mendengar hal yang sama akan tersinggung.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Dan terakhir, pastikan perkataan itu bermanfaat</strong>.</p></blockquote>
<blockquote><p>Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya&#8221; (HR. Bukhari Muslim).</p></blockquote>
<blockquote><p><strong>Hikmah kedua adalah kita harus belajar mendengarkan</strong>. Mendengar belum tentu mendengarkan. Mendengar hanya sekadar menyerap suara lewat telinga. Sedang mendengarkan tidak sekadar menyerap suara, tapi juga menyimak dan mengolah apa-apa yang kita dengar. Karena itu, dengan mendengarkan kita akan faham, dan dengan faham kita bisa berubah.</p></blockquote>
<p align="justify">
Ada orang yang mendengar tapi konsentrasinya pecah, itu pun tidak bisa dikatakan mendengarkan. Mendengarkan erat kaitannya dengan keterampilan untuk fokus.Kalau kita konsentrasi, maka informasi dan ilmu akan fokus, hingga semangat kita akan menyala. Kalau semangat sudah menyala, tidak akan ada yang bisa menghalangi untuk sukses. Karenanya, dalam mendengar informasi harus fokus dan tuntas, jangan setengah-setengah. Dari itu, kita harus belajar mendengarkan, menyimak, dan memfokuskan diri untuk memahami. Dengan pemahaman yang benar insya Allah kita bisa bertindak benar dan proporsional.</p>
<p align="justify">Dari asma Allah SWT ini, kita bisa menyimpulkan bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara.</p>
<p>Mendengar harus dua kali lebih banyak, supaya sekali berkata maknanya bisa lebih besar. Karena itulah Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut. Hisap informasi sebanyak mungkin, lalu olah, dan keluarkan dengan kata-kata yang sarat makna. Banyak bicara akan banyak mengeluarkan kata-kata, hingga peluang tergelincir akan semakin besar. Bila ini terjadi maka peluang untuk celaka jadi semakin besar.</p>
<blockquote><p>Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah SAW, &#8220;Barang siapa banyak bicara, niscaya banyak kesalahannya; barang siapa banyak kesalahannya, niscaya akan banyak dosanya; dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka menjadi lebih utama baginya&#8221; (HR. Abu Nu&#8217;aim)</p></blockquote>
<p align="justify">Semoga Allah menuntun kita menjadi orang bijak, yang banyak mendengar sedikit bicara. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<p align="justify">
<strong>Sumber: mualaf.com</strong></p>
<br />Posted in Islamic Center  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ferryben.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ferryben.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ferryben.wordpress.com&amp;blog=7017959&amp;post=75&amp;subd=ferryben&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ferryben.wordpress.com/2009/03/31/berbicara-dan-mendengar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d80fc544b0acad4e3241c2854ceadca?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ferryben</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
